7 Mitos tentang Emosi yang Membuat Anda Sulit Berkembang

Sebelum memahami bagaimana emosi memengaruhi cara berpikir dan berperilaku, Anda perlu mengenali terlebih dahulu apa sebenarnya emosi itu.
Meskipun emosi memengaruhi cara kita menilai suatu peristiwa dan mengambil keputusan, kebanyakan orang hanya menghabiskan sedikit waktu untuk membicarakan perasaan mereka.
Untuk menghindari rasa canggung saat mengatakan, "Saya merasa sedih," banyak orang lebih memilih menggunakan ungkapan seperti, "I had a lump in my throat," atau "I have butterflies in my stomach," untuk menggambarkan kondisi emosinya.
Sayangnya, banyak anak juga tidak memperoleh pendidikan yang memadai tentang emosi. Mereka diharapkan belajar mengelola emosi melalui pengamatan, padahal kenyataannya banyak orang dewasa justru memberikan contoh yang kurang tepat.
Kesediaan kita untuk membicarakan perasaan sangat dipengaruhi oleh budaya. Usia, agama, etnis, dan bahasa juga berperan dalam cara kita memahami serta menafsirkan emosi.
Faktanya, para ilmuwan di seluruh dunia masih belum mencapai kesepakatan mengenai berapa banyak jenis emosi yang sebenarnya ada. Bahkan, Popular Science pernah membahas 21 jenis emosi dari berbagai belahan dunia yang tidak memiliki padanan dalam bahasa Inggris.
Tidak mengherankan jika masih banyak kesalahpahaman mengenai emosi dan bagaimana kita seharusnya mengekspresikannya. Sebagai seorang psikoterapis, saya sering melihat masalah dalam hubungan, kesehatan mental, kesehatan fisik, hingga performa kerja yang berakar dari kesalahpahaman tersebut.
Berikut beberapa mitos utama tentang emosi yang perlu diluruskan:
1. "Saya Tidak Bisa Mengendalikan Emosi Saya"
Dalam hal emosi, Anda bukanlah korban yang tidak berdaya. Banyak orang percaya bahwa mereka terjebak dalam emosi yang tidak bisa dikendalikan.
Padahal, Anda dapat mengambil tindakan untuk mengubah kondisi emosional Anda. Jika Anda bangun dalam suasana hati yang buruk, Anda bisa melakukan sesuatu untuk memperbaikinya. Jika Anda sedang marah, Anda dapat menenangkan pikiran dan tubuh Anda.
Untuk mengubah emosi, Anda perlu mengubah cara berpikir dan perilaku Anda.
2. "Saya Seharusnya Merasakan Hal yang Berbeda"
Meskipun Anda memiliki kendali tertentu atas emosi, perasaan yang muncul bukan berarti "salah".
Banyak orang berkata, "Saya tidak seharusnya marah karena hal sekecil ini," atau "Saya seharusnya merasa lebih bahagia daripada ini."
Daripada menyalahkan diri sendiri atas apa yang Anda rasakan, terimalah emosi tersebut sebagai sesuatu yang sedang terjadi. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana Anda memilih untuk merespons emosi tersebut.
3. "Meluapkan Perasaan Akan Membuat Saya Lega"
Melampiaskan emosi atau mencurahkan seluruh kemarahan tidak selalu membuat Anda merasa lebih baik. Berbagai penelitian justru menunjukkan bahwa hal tersebut dapat memberikan dampak sebaliknya.
Membicarakan emosi secara berlebihan atau terus-menerus mengulang keluhan hanya akan memperburuk keadaan.
Sebaliknya, kenali emosi Anda, beri nama pada perasaan tersebut, terimalah keberadaannya, lalu lanjutkan hidup jika Anda benar-benar ingin pulih.
Baca Juga: Sisi Positif Mengeluh yang Jarang Disadari
4. "Mengendalikan Emosi Berarti Menjadi Seperti Robot"
Mengelola emosi tidak sama dengan menekannya. Anda tetap dapat merasakan berbagai macam emosi tanpa harus dikendalikan oleh emosi tersebut.
Kemampuan mengatur emosi merupakan salah satu keterampilan yang membantu Anda membangun ketangguhan mental. Semakin Anda belajar menghadapi perasaan dengan cara yang sehat, semakin mudah Anda bangkit dari luka emosional.
Tujuannya adalah mengubah emosi menjadi tindakan yang produktif serta membantu Anda membuat keputusan yang lebih baik.
5. "Orang Lain Bisa Membuat Saya Merasakan Emosi Tertentu"
Atasan Anda tidak bisa "membuat" Anda marah, dan mertua Anda tidak bisa "membuat" Anda merasa tidak percaya diri. Tidak ada seorang pun yang benar-benar dapat mengendalikan emosi Anda.
Orang lain memang dapat memengaruhi perasaan Anda, tetapi mereka tidak menentukan apa yang Anda rasakan. Andalah yang bertanggung jawab atas cara Anda mengelola pikiran, emosi, dan perilaku.
6. "Saya Tidak Mampu Menghadapi Emosi yang Tidak Nyaman"
Meragukan kemampuan diri untuk menghadapi emosi yang tidak nyaman, seperti cemas atau sedih, dapat membuat seseorang memilih untuk menghindarinya.
Semakin sering Anda menghindari ketidaknyamanan, semakin rendah pula keyakinan Anda terhadap kemampuan diri sendiri dalam menghadapi tantangan hidup.
Walaupun emosi yang tidak nyaman terasa berat, Anda tetap mampu melewatinya. Memberikan ruang bagi diri sendiri untuk merasakan emosi tersebut merupakan bagian penting dari proses penyembuhan dan dapat membantu Anda membangun kehidupan yang lebih baik.
Sebagai contoh, Anda tetap dapat memberikan presentasi meskipun gugup, menyampaikan pendapat meskipun takut, atau mengucapkan selamat tinggal meskipun sedang bersedih.
7. "Menunjukkan Emosi Adalah Tanda Kelemahan"
Meskipun dalam situasi tertentu penting untuk tetap bersikap profesional, mengekspresikan emosi bukanlah tanda kelemahan.
Menyadari emosi yang Anda rasakan dan secara sadar memilih untuk membagikannya, ketika memang sesuai dengan situasi sosial, justru dapat menjadi tanda kekuatan.
Menunjukkan emosi juga mencerminkan tingkat kepercayaan dalam sebuah hubungan. Ketika Anda mengatakan kepada seseorang bahwa Anda sedang marah atau sedih, hal itu menunjukkan bahwa Anda cukup nyaman untuk bersikap terbuka.
Mengembangkan Kesadaran Emosi
Ketika Anda memahami kebenaran tentang emosi, Anda dapat mulai melatih kemampuan untuk mengenali, menerima, dan mengelolanya dengan lebih baik.
Meningkatkan kesadaran emosional merupakan salah satu kunci untuk menjadi lebih tangguh secara mental sekaligus meraih keberhasilan dalam kehidupan pribadi maupun profesional.
Rekomendasi: Take Nothing Personally: Belajar Hidup Lebih Tenang
Kepribadian
Tags: Pertumbuhan, Sifat Positif
Amy Morin adalah seorang psikoterapis, pembicara, dan dosen psikologi. Ia merupakan penulis buku 13 Things Mentally Strong People Don't Do serta pakar di bidang kekuatan mental yang kerap menyampaikan ceramah di berbagai organisasi dan acara publik.
Pandangan serta nasihatnya pernah dimuat di berbagai media terkemuka seperti Fast Company, Time, Parents, Psychology Today, Oprah.com, Fox News, Glenn Beck, Rush Limbaugh, NBC News, dan ABC News.





